Monday, October 29, 2012

Pemuda 1928, pemuda 1945 dan pemuda 2012


Oleh batara R. Hutagalung
Bangsa Indonesia baru memperingati tanggal 28 Oktober, sebagi Hari Sumpah Pemuda. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai etnis dan agama di wilayah jajahan Belanda, berkumpul di Batavia (kini Jakarta), dan membulatkan tekad, untuk menghilangkan perbedaan dan pengelompokan berdasarkan etnis dan agama, serta hanya mengakui satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Organisasi-organisasi pemuda tersebut adalah Jong (Pemuda) Islamieten Bond (Persatuan), Pemoeda Indonesia, Jong Java, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Sumaterananen Bond, Pemoeda Kaoem Betawi dan Jong Celebes (Sulawesi).

Perjuangan panjang selama 17 tahun baru dapat direalisasikan pada 17 Agustus 1945, dengan diproklamasikannya Republik Indonesia, sebagai wujud kehendak para pemuda tahun 1928. Namun setelah menyatakan kemerdekaannya, bangsa Indonesia masih harus berjuang selama hampir lima tahun melawan agresi militer Belanda, yang dibantu oleh tiga divisi tentara Inggris dan dua divisi tentara Australia, yang berusaha menjajah kembali.

Pada 28 Oktober 1945, para pemuda dari seluruh penjuru Nusantara yang berada di Surabaya, membangkang perintah Panglima Tentara Inggris, Brigjen AWS Mallaby untuk menyerahkan puluhan ribu senjata yang telah dirampas dari tentara Jepang. Puluhan ribu pemuda, selain dengan senjata yang mereka rampas dari Jepang, juga hanya dengan bersenjatakan clurit dan bambu runcing, menyerang pasukan Inggris yang dilengkapi dengan persenjataan paling muthakir pada waktu itu.

Para pemuda di Surabaya berhasil membawa Brigade 49 tentara Inggris, ke ambang kemusnahan. Inggris adalah  salahsatu pemenang Perang Dunia II. Ribuan pemuda Indonesia di Surabaya tewas dalam pertempuran melawan tentara Inggris pada Oktober dan November 1945.
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan antara tahun 1945 – 1950 diperkirakan telah menelan korban jiwa sekitar satu juta, sebagian terbesar adalah penduduk sipil, termasuk wanita dan anak-anak.
Mereka tewas dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Semboyan pemuda pada waktu itu adalah: “Merdeka atau mati!,”

Apa yang terjadi dengan pemuda Indonesia tahun 2012?
Hari ini ditayangkan gambar di satu stasiun televisi, bagaimana ribuan pemuda dari beberapa desa di Lampung Selatan sedang menuju desa Balinuraga. Tampak selain membawa senjata rakitan dan bom molotov mereka juga bersenjatakan clurit dan bambu runcing, persis seperti para pemuda di Surabaya tahun 1945 ketika menyerang agresor. Namun kalau tahun 1945, para pemuda Indonesia menyerang tentara Inggris, tahun 2012 para pemuda ini menyerang orang Indonesia, yang merupakan tetangga mereka sendiri. Akibat penyerangan ini 4 orang tewas, puluhan rumah dan kendaraan bermotor di desa Balinuraga dibakar. Dikabarkan bentrokan ini terjadi karena kesalahpahaman antar pemuda dari  desa-desa yang bentrok. Minggu yang lalu, tiga pemuda dari kelompok penyerang tewas dalam bentrok dengan pemuda dari desa Balinuraga. Hari ini mereka melakukan pembalasan dendam dengan menyerang desa Balinuraga dan membunuh 4 warga desa Balinuraga serta membakar rumah dan kendaraan bermotor di desa Balinuraga dan Balipatok. Jumlah tewas dalam bentrokan antar desa ini menjadi 7 orang. Untuk apa mereka tewas? Mungkin untuk melampiaskan kepuasan dan kesenangan, telah berhasil membalas dendam.

Demikian juga dengan konflik di Ambon tahun 1999, yang kemudian berlanjut menjadi konflik berkepanjangan dengan kedok agama, yang menelan korban jiwa sampai ribuan. Konflik di Ambon tersebut juga berawal dari perkelahian antara pemuda dari dua kampung, kemudian bereskalasi (dibuat) menjadi konflik dua agama.

Sejak beberapa tahun belakangan, setiap hari masyarakat disuguhkan dengan berita mengenai bentrokan antar etnis (Dayak dan Madura di Kalimantan), tawuran antar kampung/desa, antar warga, antar siswa, antar mahasiswa, bahkan antar mahasiswa dari dua fakultas di satu Perguruan Tinggi. Juga penyerangan terhada kelompok minoritas atau yang berbeda keyakinannya. Tawuran di dunia pendidikan seolah telah menjadi budaya. Ratusan mahasiswa dan siswa tewas sia-sia akibat budaya tawuran tersebut, dan tidak pernah diambil tindakan tegas, yang membuat efek jera. Ratusan ribu pemuda Indonesia telah kecanduan narkoba. Setiap tahun, sekitar 15.000 mati karena narkoba. Politikus-politikus muda tertangkap dan dihukum karena kasus korupsi.

Yang sangat menonjol sekarang, apabila ada sedikit perbedaan dalam memahami sesuatu ajaran, maka kelompok yang mempunyai tafsir berbeda dituding sebagai aliran sesat, dan dilakukan tindak kekerasan oleh para “penguasa kebenaran” terhadap para pengikut “aliran sesat” untuk mengembalikan mereka ke “jalan yang benar” (tentu versi “penguasa/pemilik kebenaran”).

Kelihatannya semboyan pemuda Indonesia tahun 2012 adalah :”Pokoknya aku happy!”

Quo vadis pemuda Indonesia?

========================================


Senin, 29/10/2012 17:01 WIB
Bentrok di Lampung Selatan, 4 Warga Dikabarkan Tewas
Indra Subagja - detikNews

Jakarta - Bentrok antar warga di Kalianda, Lampung Selatan, kembali memakan korban jiwa. 4 Warga Desa Balinuraga dikabarkan tewas dengan luka mengenaskan setelah dikepung ribuan warga. Pemicu kerusuhan adalah kesalahpahaman antar pemuda.

Informasi yang dikumpulkan detikcom, Senin (29/10/2012) 4 warga tewas dengan kondisi luka di sekujur tubuh. Satu jenazah yang tergeletak di jalan bahkan sangat mengenaskan. Selain korban tewas, tercatat 70 rumah di desa yang berjarak sekitar 30 menit dari Pelabuhan Bakauheni itu dibakar.

Ribuan warga yang datang menyerbu desa itu memang sudah sulit dibendung. Mereka masuk lewat pematang sawah dan jalur tikus. Padahal, petugas kepolisian sudah menutup jalan masuk ke desa itu. Selain Desa Balinuraga, desa di sekitarnya juga menjadi sasaran.
Sementara itu Kapolres Lampung Selatan AKBP Tatar Nugroho yang dikonfirmasi detikcom belum bisa memberikan keterangan. "Nanti ya nanti. Saya masih di lokasi ini," jelas Tatar.

Insiden penyerangan ini buntut tewasnya 3 warga dari kelompok yang melakukan penyerangan hari ini pada Minggu (28/10). Insiden ini merupakan kelanjutan atas kesalahpahaman antar pemuda yang berimbas pada penyerangan.

(ndr/nrl)

No comments: