Monday, March 09, 2026

9 Maret 1942 Akhir Penjajahan Belanda di Bumi Nusantara

 

9 Maret 1942

Akhir Penjajahan Belanda 

di Bumi Nusantara

 


Catatan Batara R. Hutagalung

Penasihat Menteri Kebudayaan

Bidang Penguatan Literasi Sejarah

Pendahuluan

 

Selama puluhan tahun, 99,9% rakyat Indonesia percaya bahwa “Belanda Menjajah Indonesia 350 tahun,” tanpa ada yang dapat menyebut dengan tepat, kapan dimulainya penjajahan Belanda di Indonesia, dan kapan berakhirnya. Mitos yang ahistoris, sangat salah, menyesatkan, sebenarnya sangat memalukan. Narasi ini membuat bangsa Indonesia, bangsa yang jumlah penduduknya belasan kali lipat dari bangsa Belanda sang penjajah, menjadi bangsa pecundang, yang lemah, tak berdaya dan dijajah selama 350 tahun oleh bangsa yang penduduknya sangat kecil, yang letak negaranya berjarak lebih dari 12.000 km. Bahkan bangsa yang besar ini selama lebih dari 250 tahun, diperjual-belikan sebagai budak di negeri sendiri. Kalau kalimat ini memang benar adanya, dan memang berdasarkan fakta sejarah, alangkah memalukannya hal ini. Sampai artkel ini ditulis, belum terlihat adanya upaya untuk memberi pencerahan yang jelas kepada rakyat Indonesia, bahwa narasi sejarah tersebut ahistoris, sangat salah bahkan sangat memalukan.

Kesalahan penulisan narasi/tafsir ini pertama kali saya ungkap tahun 2002, ketika menuntut pemerintah Belanda sehubungan dengan VOC. Artikel saya mengenai Kronologi Perjuangan Menuntut Pemerintah Belanda telah saya upload ke weblog:

https://batarahutagalung.blogspot.com/2025/08/kronologi-perjuangan-menuntut_26.html

Penjajahan Belanda di Nusantara, yang sekarang menjadi wilayah negara Republik Indonesia dimulai tanggal 30 Mei 1619, yaitu ketika Jan Pieterszoon Coen (JPC), Gubernur Jenderal VOC ke 4 berhasil menguasai pelabuhan kecil Jayakarta, yang kemudian oleh Belanda namanya diganti menjadi Batavia. Sekarang bernama Jakarta. Menguasai pelabuhan kecil ini tidak berarti bahwa Belanda menguasai seluruh wilayah di Asia Tenggara yang menjadi jajahan Belanda sampai tanggal 9 Maret 1942. Setelah JPC menguasai Jayakarta, pada bulan Mei 1621 dia menyerang kepulauan Banda dan berhasil menguasai beberapa pulau penghasil pala, yang harganya sangat mahal di Eropa. Harga di Eropa dapat mencapai 330 - 400 kali lipat dari harga beli. Para pemimpin Banda dibunuh dengan sangat kejam, dan seluruh rakyatnya ayng tersisa, terutama perempuan dan anak-anak, dibawa ke Batavia untuk dijual sebagai budak. 

Yang juga harus diluruskan adalah, tidak seluruh wilayah Nusantara mengalami penjajahan Belanda sampai lebih dari 300 tahun. Beberapa kerajaan dan kesultanan di Asia Tenggara baru berhasil dikalahkan oleh  Belanda di tahun 1900-an, antara lain Kesultanan Aceh tahun 1904, Kerajaan Batak tahun 1907, kerajaan Badung di Bali tahun 1906 dan kerajaan Klungkung, juga di Bali, tahun 1908. Dengan demikian, kerajaan-kerajaan dan kesultanan tersebut dijajah Belanda hanya sekitar 30 tahun, sampai tanggal 9 Maret 1942. (Rincian mengenai masa VOC dapat dibaca di: http://batarahutagalung.blogspot.com/2006/10/voc-verenigde-oost-indische-compagnie.html)

Yang dijajah oleh Belanda adalah berbagai kerajaan dan kesultanan di Nusantara, yang kemudian dinamai oleh Belanda sebagai Netherlands-Indië, atau terjemahannya adalah India-Belanda (banyak yang menulis: Hindia-Belanda). Republik Indonesia de facto dan de jure baru ada sejak proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Kata "Indonesia" pun baru "diciptakan" bulan Februari tahun 1850 oleh George Samuel Windsor Earl, seorang etnolog asal Inggris. (Lihat: http://batarahutagalung.blogspot.com/2006/03/asal-usul-kata-indonesia.html)

Faktanya, INDONESIA TIDAK PERNAH DIJAJAH, dan bangsa Indonesia adalah bangsa pemenang yang tidak terkalahkan. (Lihat buku karya Batara R. Hutagalung: “INDONESIA TIDAK PERNAH DIJAJAH,” yang diluncurkan tanggal 19 Desember 2017 di Gedung Nusantara DPR RI/MPR RI, Ruang Abdul Muis).

Penjajahan Belanda di bumi Nusantara resmi berakhir pada 9 Maret 1942, yaitu ketika pemerintah India-Belanda menyerah tanpa syarat kepada tentara Jepang, dan menyerahkan jajahannya, Netherlands-Indië, kepada Jepang. Jepang kemudian menyatakan menyerah kepada tentara sekutu pada 15 Agustus 1945. Ketika Belanda datang ke wilayah Indonesia bulan September 1945, dengan dibantu oleh sekutunya dalam Perang Dunia II/Perang Asia-Pasifik, ABDACOM (American, British, Dutch, Australian, Command), Republik Indonesia telah berdiri!

 

Perang Asia - Pasifik*

 

Bulan Oktober 1941, Jenderal Hideki Tojo menggantikan Konoe sebagai Perdana Menteri. Sebenarnya, sampai akhir tahun 1940, pimpinan militer Jepang tidak menghendaki untuk berperang melawan beberapa negara sekaligus, namun sejak pertengahan tahun 1941 mereka melihat, bahwa Amerika Serikat, Britania Raya dan Belanda harus dihadapi sekaligus, apabila mereka ingin menguasai sumber daya alam di Asia Tenggara. Apalagi setelah Amerika melancarkan embargo minyak bumi, yang sangat mereka butuhkan, baik untuk industri di Jepang, maupun untuk keperluan perang.

Admiral Isoroku Yamamoto, Panglima Angkatan Laut Jepang, mengembangkan strategi perang yang sangat berani, yaitu mengerahkan seluruh kekuatan armadanya untuk dua operasi besar. Seluruh potensi Angkatan Laut Jepang mencakup 6 kapal induk (pengangkut pesawat tempur), 10 kapal perang, 18 kapal penjelajah berat, 20 kapal penjelajah ringan, 4 kapal pengangkut perlengkapan, 112 kapal perusak, 65 kapal selam serta 2.274 pesawat tempur.

Kekuatan pertama, yaitu 6 kapal induk, 2 kapal perang, 11 kapal perusak serta lebih dari 1.400 pesawat tempur, pada 7 Desember 1941, akan menyerang secara mendadak basis Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbor di kepulauan Hawaii. Sedangkan kekuatan kedua, sisa kekuatan Angkatan Laut yang mereka miliki, mendukung Angkatan Darat dalam Operasi Selatan, yaitu penyerangan atas Filipina dan Malaya/Singapura, yang akan dilanjutkan ke wilayah jajahan Belanda, Netherlands Indië (India-Belanda). Kekuatan yang dikerahkan ke Asia Tenggara adalah 11 Divisi Infantri yang didukung oleh 7 resimen tank serta 795 pesawat tempur. Seluruh operasi direncanakan selesai dalam 150 hari. Admiral Chuichi Nagumo memimpin armada yang ditugaskan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii.

Hari minggu pagi tanggal 7 Desember 1945, 360 pesawat terbang yang terdiri dari pembom pembawa torpedo serta sejumlah pesawat tempur diberangkatkan dalam dua gelombang. Serangan mendadak tersebut berhasil menenggelamkan dua kapal perang besar serta merusak 6 kapal perang lain. Selain itu pemboman Jepang tesebut juga menghancurkan 180 pesawat tempur Amerika. Lebih dari 2.330 serdadu Amerika tewas dan lebih dari 1.140 lainnya luka-luka. Namun tiga kapal induk Amerika selamat, karena pada saat itu tidak berada di Pearl Harbor. Tanggal 8 Desember 1941, Kongres Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Jepang.

Perang Asia - Pasifik, yang dimulai dengan pemboman Jepang atas Pearl Harbour tanggal 7 Desember 1941, juga berpengaruh besar terhadap gerakan kemerdekaan negara-negara di Asia Timur, termasuk di Nederlands-Indie (India-Belanda). Tujuan Jepang menyerang dan menduduki India-Belanda adalah untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung potensi perang Jepang serta mendukung industrinya. Jawa dirancang sebagai pusat penyediaan bagi seluruh operasi militer di Asia Tenggara, dan Sumatera sebagai sumber minyak utama.

Penyerangan Jepang ke India-Belanda, diawali dengan pendaratan tentara Jepang di Tarakan tanggal 10 Januari 1942. Balikpapan (Kalimantan) dan Kendari (Sulawesi) jatuh ke tangan tentara Jepang tanggal 24 Januari 1942, Ambon tanggal 4 Februari, Makasar tanggal 8 Februari, dan Banjarmasin tanggal 16 Februari. Bali diduduki tanggal 18 Februari, dan tanggal 24 Februari tentara Jepang telah menguasai Timor.

Seiring dengan penyerbuan ke Singapura, tanggal 13 Februari Jepang menerjunkan pasukan payung di Palembang, yang jatuh ke tangan tentara Jepang tiga hari kemudian. Dalam pertempuran di Laut Jawa tanggal 27 Februari 1942 yang berlangsung selama tujuh jam, Angkatan Laut Sekutu dihancurkan. Sekutu kehilangan lima kapal perangnya, sedangkan Jepang hanya menderita kerusakan pada satu kapal perusaknya (Destroyer). Rear Admiral Karel Willem Frederik Marie Doorman, Komandan Angkatan Laut India-Belanda, yang baru dua hari sebelumnya, tanggal 25 Februari 1942 ditunjuk menjadi Tactical Commander armada tentara Sekutu ABDACOM (American, British, Dutch, Australian, Command), tenggelam bersama kapal perang utamanya (Flagship) De Ruyter.

 

Belanda Menyerah Kepada Jepang

 

Tanggal 1 Maret 1942, Tentara ke 16 di bawah pimpinan Letnan Jenderal Hitoshi Imamura mendarat di tiga tempat di Jawa, yaitu di Banten, Eretan Wetan dan Kragan. Bala tentara Dai Nippon segera menggempur pertahanan tentara Belanda dan sekutunya di Jawa, yaitu pasukan Britania Raya dan Australia. Setelah merebut Pangkalan Udara Kalijati, Letnan Jenderal Imamura membuat markasnya di sana. Letjen Imamura memberikan ultimatum kepada Belanda dan sekutunya, bahwa apabila mereka tidak menyerah, maka tentara Jepang akan menghancurkan seluruh tentara Belanda dan sekutunya.

Pada 9 Maret 1942 (ada sumber yang menyebut tanggal 8 Maret 1942), Gubernur Jenderal Jonkheer Tjarda van Starkenborgh Stachouwer bersama Letnan Jenderal Hein ter Poorten, Panglima Tertinggi Tentara India-Belanda datang ke Kalijati dan dimulai perundingan antara Pemerintah India Belanda dengan pihak tentara Jepang yang dipimpin langsung oleh Letnan Jenderal Imamura. Imamura menyatakan, bahwa Belanda harus menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat. 

 

Tentara Jepang mendarat di Kragan, Maret 1942

 

Letjen. Hein Ter Poorten (kiri). Di sebelahnya duduk Letkol. P.G. Mantel

 

Letnan Jenderal ter Poorten, mewakili Gubernur Jenderal menanda-tangani pernyataan MENYERAH TANPA SYARAT. Dengan demikian, bukan saja de facto, melainkan juga de jure, seluruh wilayah bekas India-Belanda sejak itu berada di bawah kekuasaan dan administrasi Jepang. 


Setelah penandatanganan dokumen Menyerah-Tanpa-Syarat. Berdiri di tengah, Letjen. Hitoshi Imamura, di sebelah kirinya berdiri Mayjen. Bakker dan Letjen Ter Poorten 

 

Hari itu juga, tanggal 9 Maret Jenderal Hein ter Poorten memerintahkan kepada seluruh tentara India Belanda untuk juga menyerahkan diri kepada balatentara Kekaisaran Jepang. Dengan demikian, tentara Belanda secara sangat pengecut dan memalukan, menyerah hampir tanpa perlawanan sama sekali. Dengan tindakan yang sangat memalukan itu, Belanda menghancurkan sendiri citra yang ratusan tahun dibanggakan oleh mereka yaitu bangsa Belanda/kulit putih tidak terkalahkan.

Boleh dikatakan, sang penguasa yang telah ratusan tahun menikmati dan menguras bumi Nusantara, menindas penduduknya, kini dengan sangat tidak bertanggungjawab, menyerahkan jajahannya ke tangan penguasa lain, yang tidak kalah kejam dan rakusnya. Di atas secarik kertas, Belanda telah melepaskan segala hak dan legitimasinya atas wilayah dan penduduk yang dikuasainya.

Dengan demikian, tanggal 9 Maret 1942 bukan hanya merupakan tanggal menyerahnya Belanda kepada Jepang, melainkan juga merupakan hari dan tanggal berakhirnya penjajahan Belanda di bumi Nusantara, karena ketika Belanda ke bekas jajahannya setelah tanggal 17 Aguatua 1945, Belanda dan sekutunya datang ke Republik Indonesia yang telah merdeka.   


Pangkalan Udara di Kalijati sekarang diberi nama Pangkalan Udara (Lanud) Suryadarma, Kepala Staf Angkatan Udara RI pertama.

Rumah tempat penandatangan dokumen menyerah tanpa syarat berada di dalam komplek Lanud Suryadarma, Kalijati, Subang, Jawa Barat.

 

Para penguasa “perkasa” yang lain, segera melarikan diri. Dr. Hubertus Johannes van Mook, Letnan Gubernur Jenderal untuk India Belanda bagian timur, Dr. Charles Olke van der Plas, Gubernur Jawa Timur, masih sempat melarikan diri ke Australia. Bahkan Jenderal Ludolf Hendrik van Oyen, perwira Angkatan Udara Kerajaan Belanda, yang kegemarannya adalah minuman wine (anggur), makanan dan wanita, kabur dengan kekasihnya serta meninggalkan isterinya di Bandung. Tentara KNIL di pulau Jawa, sekitar 20.000 orang, yang tidak sempat melarikan diri ke Australia, ditangkap dan dipenjarakan oleh tentara Jepang. Sedangkan orang-orang Eropa lain dan juga warganegara Amerika Serikat, diinternir. Banyak juga warga sipil tersebut yang dipulangkan kembali ke Eropa.

Di Eropa, Jerman hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk menduduki Belanda. Pemerintah Belanda serta keluarga kerajaan melarikan diri ke Inggris dan mendirikan pemerintahan Exil di London. Tanggal 7 Desember 1942, Wilhelmina, Ratu Belanda membacakan pidato di radio, yang isinya menjanjikan pemerintahan sendiri kepada jajahannya, India Belanda, apabila Perang Dunia selesai dan Jepang dapat ditaklukkan. Memang kelihatannya sangat lucu, bahwa dia memberikan janji tersebut, setelah India-Belanda “diserahkan” kepada Jepang tanpa upaya untuk mempertahankannya. Di kemudian hari, setelah Jepang kalah perang, Wilhelmina berlaku seperti “The sleeping beauty”, yang menganggap bahwa masa pendudukan Jepang hanya sebagai mimpi buruk, dan setelah terbangun, segala sesuatunya akan kembali seperti dahulu.

(Lihat: http://indonesiadutch.blogspot.com/2010/06/radio-address-by-queen-wilhelmina-on-7.html)

 

Jakarta, 9 Maret 2026.

 

*******

 

*Sebagian besar tulisan ini dikutip dari buku ‘Serangan Umum 1 Maret 1949. Dalam Kaleidoskop Sejarah Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia,’ karya Batara R. Hutagalung. Penerbit LKiS, Maret 2010. Tebal buku 742 halaman. 

Referensi dan sumber-sumber lain dapat dilihat di buku tersebut.

 

 

********