9 Maret 1942
Akhir Penjajahan Belanda
di Bumi Nusantara
Catatan Batara R. Hutagalung
Penasihat Menteri
Kebudayaan
Bidang Penguatan Literasi
Sejarah
Pendahuluan
Selama
puluhan tahun, 99,9% rakyat Indonesia percaya bahwa “Belanda Menjajah
Indonesia 350 tahun,” tanpa ada yang dapat menyebut dengan tepat, kapan
dimulainya penjajahan Belanda di Indonesia, dan kapan berakhirnya. Mitos yang
ahistoris, sangat salah, menyesatkan, sebenarnya sangat memalukan. Narasi ini
membuat bangsa Indonesia, bangsa yang jumlah penduduknya belasan kali lipat
dari bangsa Belanda sang penjajah, menjadi bangsa pecundang, yang lemah, tak
berdaya dan dijajah selama 350 tahun oleh bangsa yang penduduknya sangat kecil,
yang letak negaranya berjarak lebih dari 12.000 km. Bahkan bangsa yang besar
ini selama lebih dari 250 tahun, diperjual-belikan sebagai budak di negeri
sendiri. Kalau kalimat ini memang benar adanya, dan memang berdasarkan
fakta sejarah, alangkah memalukannya hal ini. Sampai artkel ini ditulis, belum
terlihat adanya upaya untuk memberi pencerahan yang jelas kepada rakyat
Indonesia, bahwa narasi sejarah tersebut ahistoris, sangat salah bahkan sangat
memalukan.
Kesalahan
penulisan narasi/tafsir ini pertama kali saya ungkap tahun 2002, ketika
menuntut pemerintah Belanda sehubungan dengan VOC. Artikel saya mengenai Kronologi Perjuangan Menuntut
Pemerintah Belanda telah saya upload ke weblog:
https://batarahutagalung.blogspot.com/2025/08/kronologi-perjuangan-menuntut_26.html
Penjajahan
Belanda di Nusantara, yang sekarang menjadi wilayah negara Republik Indonesia dimulai
tanggal 30 Mei 1619, yaitu ketika Jan Pieterszoon Coen (JPC), Gubernur
Jenderal VOC ke 4 berhasil menguasai pelabuhan kecil Jayakarta, yang kemudian
oleh Belanda namanya diganti menjadi Batavia. Sekarang bernama Jakarta.
Menguasai pelabuhan kecil ini tidak berarti bahwa Belanda menguasai seluruh
wilayah di Asia Tenggara yang menjadi jajahan Belanda sampai tanggal 9 Maret
1942. Setelah JPC menguasai Jayakarta, pada bulan Mei 1621 dia menyerang
kepulauan Banda dan berhasil menguasai beberapa pulau penghasil pala, yang
harganya sangat mahal di Eropa. Harga di Eropa dapat mencapai 330 - 400 kali
lipat dari harga beli. Para pemimpin Banda dibunuh dengan sangat kejam, dan
seluruh rakyatnya ayng tersisa, terutama perempuan dan anak-anak, dibawa ke
Batavia untuk dijual sebagai budak.
Yang juga
harus diluruskan adalah, tidak seluruh wilayah Nusantara mengalami penjajahan Belanda
sampai lebih dari 300 tahun. Beberapa kerajaan dan kesultanan di Asia Tenggara baru
berhasil dikalahkan oleh Belanda di
tahun 1900-an, antara lain Kesultanan Aceh tahun 1904, Kerajaan Batak tahun
1907, kerajaan Badung di Bali tahun 1906 dan kerajaan Klungkung, juga di Bali,
tahun 1908. Dengan demikian, kerajaan-kerajaan dan kesultanan tersebut
dijajah Belanda hanya sekitar 30 tahun, sampai tanggal 9 Maret 1942. (Rincian
mengenai masa VOC dapat dibaca di: http://batarahutagalung.blogspot.com/2006/10/voc-verenigde-oost-indische-compagnie.html)
Yang
dijajah oleh Belanda adalah berbagai kerajaan dan kesultanan di Nusantara, yang
kemudian dinamai oleh Belanda sebagai Netherlands-Indië, atau
terjemahannya adalah India-Belanda (banyak yang menulis: Hindia-Belanda). Republik
Indonesia de facto dan de jure baru ada sejak
proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Kata
"Indonesia" pun baru "diciptakan" bulan Februari tahun 1850
oleh George Samuel Windsor Earl, seorang etnolog asal Inggris. (Lihat: http://batarahutagalung.blogspot.com/2006/03/asal-usul-kata-indonesia.html)
Faktanya, INDONESIA
TIDAK PERNAH DIJAJAH, dan bangsa Indonesia adalah bangsa pemenang yang
tidak terkalahkan. (Lihat buku karya Batara R. Hutagalung: “INDONESIA TIDAK
PERNAH DIJAJAH,” yang diluncurkan tanggal 19 Desember 2017 di Gedung Nusantara
DPR RI/MPR RI, Ruang Abdul Muis).
Penjajahan
Belanda di bumi Nusantara resmi berakhir pada 9 Maret 1942, yaitu ketika
pemerintah India-Belanda menyerah tanpa syarat kepada tentara Jepang, dan
menyerahkan jajahannya, Netherlands-Indië, kepada Jepang. Jepang
kemudian menyatakan menyerah kepada tentara sekutu pada 15 Agustus 1945. Ketika
Belanda datang ke wilayah Indonesia bulan September 1945, dengan dibantu oleh sekutunya
dalam Perang Dunia II/Perang Asia-Pasifik, ABDACOM (American, British,
Dutch, Australian, Command), Republik Indonesia telah berdiri!
Perang Asia - Pasifik*
Bulan Oktober 1941, Jenderal Hideki Tojo menggantikan Konoe sebagai
Perdana Menteri. Sebenarnya, sampai akhir tahun 1940, pimpinan militer Jepang
tidak menghendaki untuk berperang melawan beberapa negara sekaligus, namun
sejak pertengahan tahun 1941 mereka melihat, bahwa Amerika Serikat, Britania
Raya dan Belanda harus dihadapi sekaligus, apabila mereka ingin menguasai
sumber daya alam di Asia Tenggara. Apalagi setelah Amerika melancarkan embargo
minyak bumi, yang sangat mereka butuhkan, baik untuk industri di Jepang, maupun
untuk keperluan perang.
Admiral Isoroku Yamamoto, Panglima Angkatan Laut Jepang, mengembangkan
strategi perang yang sangat berani, yaitu mengerahkan seluruh kekuatan
armadanya untuk dua operasi besar. Seluruh potensi Angkatan Laut Jepang
mencakup 6 kapal induk (pengangkut pesawat tempur), 10 kapal perang, 18 kapal
penjelajah berat, 20 kapal penjelajah ringan, 4 kapal pengangkut perlengkapan,
112 kapal perusak, 65 kapal selam serta 2.274 pesawat tempur.
Kekuatan pertama, yaitu 6 kapal induk, 2 kapal perang, 11 kapal perusak
serta lebih dari 1.400 pesawat tempur, pada 7 Desember 1941, akan menyerang
secara mendadak basis Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbor di
kepulauan Hawaii. Sedangkan kekuatan kedua, sisa kekuatan Angkatan Laut yang
mereka miliki, mendukung Angkatan Darat dalam Operasi Selatan, yaitu
penyerangan atas Filipina dan Malaya/Singapura, yang akan dilanjutkan ke
wilayah jajahan Belanda, Netherlands Indië (India-Belanda).
Kekuatan yang dikerahkan ke Asia Tenggara adalah 11 Divisi Infantri yang
didukung oleh 7 resimen tank serta 795 pesawat tempur. Seluruh operasi
direncanakan selesai dalam 150 hari. Admiral Chuichi Nagumo memimpin armada
yang ditugaskan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbor,
Hawaii.
Hari minggu pagi tanggal 7 Desember 1945, 360 pesawat terbang yang
terdiri dari pembom pembawa torpedo serta sejumlah pesawat tempur
diberangkatkan dalam dua gelombang. Serangan mendadak tersebut berhasil
menenggelamkan dua kapal perang besar serta merusak 6 kapal perang lain. Selain
itu pemboman Jepang tesebut juga menghancurkan 180 pesawat tempur Amerika.
Lebih dari 2.330 serdadu Amerika tewas dan lebih dari 1.140 lainnya luka-luka.
Namun tiga kapal induk Amerika selamat, karena pada saat itu tidak berada di
Pearl Harbor. Tanggal 8 Desember 1941, Kongres Amerika Serikat menyatakan
perang terhadap Jepang.
Perang Asia - Pasifik, yang dimulai dengan pemboman Jepang atas Pearl
Harbour tanggal 7 Desember 1941, juga berpengaruh besar terhadap gerakan
kemerdekaan negara-negara di Asia Timur, termasuk di Nederlands-Indie
(India-Belanda). Tujuan Jepang menyerang dan menduduki India-Belanda adalah
untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung
potensi perang Jepang serta mendukung industrinya. Jawa dirancang sebagai pusat
penyediaan bagi seluruh operasi militer di Asia Tenggara, dan Sumatera sebagai
sumber minyak utama.
Penyerangan Jepang ke India-Belanda, diawali dengan pendaratan tentara
Jepang di Tarakan tanggal 10 Januari 1942. Balikpapan (Kalimantan) dan Kendari
(Sulawesi) jatuh ke tangan tentara Jepang tanggal 24 Januari 1942, Ambon
tanggal 4 Februari, Makasar tanggal 8 Februari, dan Banjarmasin tanggal 16
Februari. Bali diduduki tanggal 18 Februari, dan tanggal 24 Februari tentara
Jepang telah menguasai Timor.
Seiring dengan penyerbuan ke Singapura, tanggal 13 Februari Jepang
menerjunkan pasukan payung di Palembang, yang jatuh ke tangan tentara Jepang
tiga hari kemudian. Dalam pertempuran di Laut Jawa tanggal 27 Februari 1942
yang berlangsung selama tujuh jam, Angkatan Laut Sekutu dihancurkan. Sekutu
kehilangan lima kapal perangnya, sedangkan Jepang hanya menderita kerusakan
pada satu kapal perusaknya (Destroyer). Rear Admiral Karel Willem
Frederik Marie Doorman, Komandan Angkatan Laut India-Belanda, yang baru dua
hari sebelumnya, tanggal 25 Februari 1942 ditunjuk menjadi Tactical
Commander armada tentara Sekutu ABDACOM (American, British, Dutch,
Australian, Command), tenggelam bersama kapal perang utamanya (Flagship)
De Ruyter.
Belanda Menyerah Kepada Jepang
Tanggal 1 Maret 1942, Tentara ke 16 di bawah pimpinan Letnan Jenderal
Hitoshi Imamura mendarat di tiga tempat di Jawa, yaitu di Banten, Eretan Wetan
dan Kragan. Bala tentara Dai Nippon segera menggempur pertahanan tentara
Belanda dan sekutunya di Jawa, yaitu pasukan Britania Raya dan Australia. Setelah
merebut Pangkalan Udara Kalijati, Letnan Jenderal Imamura membuat markasnya di
sana. Letjen Imamura memberikan ultimatum kepada Belanda dan sekutunya, bahwa
apabila mereka tidak menyerah, maka tentara Jepang akan menghancurkan seluruh
tentara Belanda dan sekutunya.
Pada 9 Maret 1942 (ada sumber yang menyebut tanggal 8 Maret 1942), Gubernur Jenderal Jonkheer Tjarda van Starkenborgh Stachouwer bersama Letnan Jenderal Hein ter Poorten, Panglima Tertinggi Tentara India-Belanda datang ke Kalijati dan dimulai perundingan antara Pemerintah India Belanda dengan pihak tentara Jepang yang dipimpin langsung oleh Letnan Jenderal Imamura. Imamura menyatakan, bahwa Belanda harus menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat.
Tentara Jepang mendarat di
Kragan, Maret 1942
Letjen. Hein Ter Poorten
(kiri). Di sebelahnya duduk Letkol. P.G. Mantel
Letnan Jenderal ter Poorten, mewakili Gubernur Jenderal menanda-tangani pernyataan MENYERAH TANPA SYARAT. Dengan demikian, bukan saja de facto, melainkan juga de jure, seluruh wilayah bekas India-Belanda sejak itu berada di bawah kekuasaan dan administrasi Jepang.
Setelah penandatanganan
dokumen Menyerah-Tanpa-Syarat. Berdiri di tengah, Letjen. Hitoshi Imamura, di
sebelah kirinya berdiri Mayjen. Bakker dan Letjen Ter Poorten
Hari itu juga, tanggal 9 Maret Jenderal Hein ter Poorten memerintahkan
kepada seluruh tentara India Belanda untuk juga menyerahkan diri kepada
balatentara Kekaisaran Jepang. Dengan demikian, tentara Belanda secara sangat
pengecut dan memalukan, menyerah hampir tanpa perlawanan sama sekali. Dengan
tindakan yang sangat memalukan itu, Belanda menghancurkan sendiri citra yang
ratusan tahun dibanggakan oleh mereka yaitu bangsa Belanda/kulit putih tidak
terkalahkan.
Boleh dikatakan, sang penguasa yang telah ratusan tahun menikmati dan
menguras bumi Nusantara, menindas penduduknya, kini dengan sangat tidak
bertanggungjawab, menyerahkan jajahannya ke tangan penguasa lain, yang tidak
kalah kejam dan rakusnya. Di atas secarik kertas, Belanda telah melepaskan
segala hak dan legitimasinya atas wilayah dan penduduk yang dikuasainya.
Dengan demikian, tanggal 9 Maret 1942 bukan hanya merupakan tanggal menyerahnya Belanda kepada Jepang, melainkan juga merupakan hari dan tanggal berakhirnya penjajahan Belanda di bumi Nusantara, karena ketika Belanda ke bekas jajahannya setelah tanggal 17 Aguatua 1945, Belanda dan sekutunya datang ke Republik Indonesia yang telah merdeka.
Pangkalan Udara di Kalijati
sekarang diberi nama Pangkalan Udara (Lanud) Suryadarma, Kepala Staf Angkatan
Udara RI pertama.
Rumah tempat penandatangan
dokumen menyerah tanpa syarat berada di dalam komplek Lanud Suryadarma,
Kalijati, Subang, Jawa Barat.
Para penguasa “perkasa” yang lain, segera melarikan diri. Dr. Hubertus
Johannes van Mook, Letnan Gubernur Jenderal untuk India Belanda bagian timur,
Dr. Charles Olke van der Plas, Gubernur Jawa Timur, masih sempat melarikan diri
ke Australia. Bahkan Jenderal Ludolf Hendrik van Oyen, perwira Angkatan Udara
Kerajaan Belanda, yang kegemarannya adalah minuman wine (anggur),
makanan dan wanita, kabur dengan kekasihnya serta meninggalkan isterinya di
Bandung. Tentara KNIL di pulau Jawa, sekitar 20.000 orang, yang tidak sempat
melarikan diri ke Australia, ditangkap dan dipenjarakan oleh tentara Jepang. Sedangkan
orang-orang Eropa lain dan juga warganegara Amerika Serikat, diinternir. Banyak
juga warga sipil tersebut yang dipulangkan kembali ke Eropa.
Di Eropa, Jerman hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk menduduki
Belanda. Pemerintah Belanda serta keluarga kerajaan melarikan diri ke Inggris
dan mendirikan pemerintahan Exil di London. Tanggal 7 Desember 1942,
Wilhelmina, Ratu Belanda membacakan pidato di radio, yang isinya menjanjikan
pemerintahan sendiri kepada jajahannya, India Belanda, apabila Perang Dunia
selesai dan Jepang dapat ditaklukkan. Memang kelihatannya sangat lucu, bahwa
dia memberikan janji tersebut, setelah India-Belanda “diserahkan” kepada Jepang
tanpa upaya untuk mempertahankannya. Di kemudian hari, setelah Jepang kalah
perang, Wilhelmina berlaku seperti “The sleeping beauty”, yang
menganggap bahwa masa pendudukan Jepang hanya sebagai mimpi buruk, dan setelah
terbangun, segala sesuatunya akan kembali seperti dahulu.
(Lihat: http://indonesiadutch.blogspot.com/2010/06/radio-address-by-queen-wilhelmina-on-7.html)
Jakarta, 9 Maret 2026.
*******
*Sebagian besar tulisan ini dikutip dari buku
‘Serangan Umum 1 Maret 1949. Dalam Kaleidoskop Sejarah Perjuangan
Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia,’ karya Batara R. Hutagalung. Penerbit
LKiS, Maret 2010. Tebal buku 742 halaman.
Referensi dan sumber-sumber lain dapat dilihat di buku tersebut.
********