Thursday, April 20, 2006

“Republik” Lan Fang di Kalimantan Barat

Disusun oleh Batara R. Hutagalung

Di Kalimantan Barat pada akhir abad ke 18, Clan Hakka (Kek) yang berasal dari daerah Kwantung (Kanton), Cina, membentuk komunitas dengan pemerintahan sendiri yang berbentuk seperti layaknya suatu Republik di Kalimantan Barat, tepatnya di Mandor. “Republik” ini bertahan selama 107 tahun dan mempunyai 10 Presiden. Presiden pertamanya adalah Lo Fong Pak (Low Lan Pak), ia lahir tahun 1738 di Kwangtung, Mei Hsien, distrik Shih Pik Pao pada tahun ketiga dinasti Ching. Ia mengawini seorang gadis dan mempunyai seorang putera. Menurut kebiasaan Hakka mereka tidak mengambil isteri selama perjalanannya keluar negeri.
Di usia 34 tahun, ia menuju Kalimantan Barat untuk ikut memburu emas (gold rush). Penguasa pada waktu itu, Sultan Panembahan, mendengar bahwa orang-orang dari Cina adalah pekerja-pekerja yang keras, maka ia mendatangkan 20 orang Tionghoa dari Brunei. Sultan Omar di Sambas juga mendengar tentang kerajinan orang Tionghoa dan menggunakan sistem penyewaan tanah untuk mendorong minat orang-orang Tionghoa berusaha di wilayahnya.
Awal tahun 1740 jumlah orang-orang Tionghoa di Kalimantan Barat hanya puluhan orang, dan tahun 1770 jumlah mereka telah mencapai sekitar 20.000 orang. Mereka yang merasa sedaerah atau sedarah kemudian mendirikan kongsi (perusahaan) untuk melindungi kepentingan dan diri mereka sendiri. Pada tahun 1776, empat belas kongsi bergabung bersama-sama membentuk Hesoon 14 kongsi untuk mendobrak kebuntuan yang diakibatkan oleh pengelompokkan yang berdasarkan daerah atau darah tersebut. Low Lan Pak kemudian mendirikan kongsinya sendiri. yaitu Lan Fang Kongsi dan berhasil menyatukan semua orang sukubangsa Hakka di daerah yang dinamakan San Shin Cing Fu (danau gunung berhati emas), dan mereka kemudian mendirikan kota Mem-Tau-Er sebagai markas besar dari kelompok usaha mereka.
Kemudian Low Lan Pak membangun administrasi sebagaimana layaknya suatu pemerintahan dengan menggunakan nama perusahaannya. Pada tahun 1777 Low Lan Pak menyatakan berdirinya Republik Lan Fang. Pada waktu itu para pendukungnya ingin mengangkat Low Lan Pak menjadi sultan, namun ia menolak dan memilih jabatan yang sekarang setara dengan jabatan presiden di suatu republik. Ibukotanya berada di Leh Wan Li. Jabatan Ta Tang Chon (presiden) dipilih melalui pemilihan. Presiden dan Wakil Presiden harus dipegang orang Hakka dari Ka Yin atau Ta Pu. Benderanya adalah bendera kuning empat persegi panjang dengan kata-kata Lan Fang Ta Tong Chi. Panji kepresidenan berbentuk segi tiga berwarna kuning dengan kata Chuao (Jenderal). Pejabat tingginya berpakaian Cina, sedangkan yang jabatannya lebih rendah mengenakan pakaian ala barat. Berdasarkan catatan perusahaan Lan Fang, setiap tahunnya mereka membayar upeti kepada Dinasti Ching di Cina.
Low Lan Pak dalam masa pemerintahannya telah menjalankan system perpajakan, dan Republik Lan Fang juga mempunyai kitab undang undang hukum, menyelenggarakan system pertanian dan pertambangan yang terarah, membangun jaringan transportasi, dan mengusahakan ketahan ekonomi berdikari, lengkap dengan perbankannya. Sistem pendidikan tetap diperhatikan bahkan semakin dikembangkan, karena Low Lan Pak sendiri asalnya memang seorang guru.
Pada waktu itu Pontianak yang terletak di muara Sungai Kapuas adalah sebuah daerah perdagangan yang penting dan diperintah oleh Sultan Abdulrachman. Sedangkan bagian hulu dari Sungai Kapuas dikuasai oleh orang Dayak. Kesultanan yang berbatasan dengan Kun Tien adalah Mempawah. Sultan Pontianakmencoba membangun istana agak ke hulu sungai yang dekat dengan perbatasan Kesultanan Mempawah dan hal ini memicu perang antara kedua kesultanan.
Pada perang ini (1794) Sultan Kun Tien dibantu oleh Lan Fang Kongsi karena kedekatan diantara mereka. Sultan Mempawah kalah dalam pertempuran tersebut, dan kemudian bergabung dengan Dayak untuk melakukan serangan balasan. Namun Low Lan Pak kembali mematahkan kekuatan Sultan Mempawah, dan bahkan kali ini Sultan Mempawah didesak terus ke utara sampai Singkawang. Pertempuran ini berakhir dengan perjanjian perdamaian antara Sultan Singkawang dan Sultan Mempawah dengan Low Lan Pak.
Setelah kemenangan ini popularitas Low Lan Pak melesat dramatis, ketika itu ia berusia 57 tahun. Rakyat, dan orang Tionghoa di daerah itu mencari perlindungan pada Lo Fang Pak, dan bahkan Sultan Kun Tien menyadari bahwa dia tidak sanggup melawan kekuatan militer Low Lan Pak, sehingga Sultan sendiri bernaung di bawah perlindungan Low Lan Pak. Presiden Low Lan Pak wafat pada tahun 1795, setelah tinggal di Kalimantan selama lebih dari 20 tahun.
Semasa presiden ke lima Liew Tai Er, Belanda memulai ekspansinya ke Kalimantan dan kemudian menduduki daerah Kalimantan Tenggara. Lan Fang kehilangan otonominya dan menjadi sebuah negara yang dilindungi Belanda. Kemudian Belanda membuka sebuah kantor kolonial di Kun Tien dan menjadi perantara untuk urusan-urusan republik. Pada tahun 1884 Singkawang menolak diperintah oleh Belanda dan akibatnya mereka diserang oleh tentara Belanda. Setelah bertempur selama 4 tahun pasukan yang dibiayai oleh Kongsi Lan Fang akhirnya kalah, dan orang-orang Tionghoa kemudian lari ke Sumatera. Belanda kemudian menguasai Kongsi Lan Fang.
Karena takut terhadap reaksi keras dari pemerintah Ching di Cina, Belanda tidak mau menyatakan bahwa mereka telah menduduki Lan Fang dan bahkan masih mengizinkan salah satu ahli warisnya menjadi tokoh setempat. Hal itu berlangsung sampai tahun 1912 sampai terbentuk Republik Cina di bawah Dr. Sun Yatsen. Baru setelah itu Belanda berani secara resmi menyatakan kekuasaan pemerintahannya di Kalimantan.
Mereka yang lari ke Sumatera berkumpul kembali di Medan, dan kemudian dari sana beberapa orang menyeberang ke Kuala Lumpur dan Singapura. Salah satu keturunan pelarian dari Kalimantan tersebut adalah Lee Kuan Yew, yang kemudian menjadi Perdana Menteri di Singapura. Orang Hakka yang mendirikan perusahaan Lan Fang kedua di Singapura adalah kelompok minoritas, namun mereka memainkan peran penting di Singapura.
Selain Lee Kuan Yew, orang-orang Hakka yang terkenal antara lain adalah Dr Sun Yatsen, pendiri Republik Cina, Mao Zedong, Deng Xiaoping, Ne Win (Diktator di Myanmar, dahulu Birma), Li Peng (mantan Perdana Menteri Cina) dan Lee Tenghui (mantan Presiden Taiwan). Ada suatu keunikan, ketika tiga orang keturunan Hakka menjadi pemimpin di tiga negara pada waktu yang bersamaan, yaitu Deng Xiaoping berkuasa di RRC, Lee Tenghui menjadi Presiden Taiwan dan Lee Kuan Yew menjadi Perdana Menteri di Singapura.

13 comments:

Hendy Lie said...

Dear Pak Batara Hutagalung,

Thanks atas artikelnya mengenai Republik Lan Fang di Kalbar.
Saya sendiri berasal dari Kalbar, tepatnya dari Singkawang. Walau berasal dari Kalbar, saya sendiri tidak mengetahui sejarah mengenai Republik Lan Fang ini. Saya baru mengetahui sejarah ini setahun belakangan melalui internet. Saya rasa bukan saya saja, tapi sebagian besar orang Kalbar juga tidak mengetahui adanya Republik Lan Fang ini.

Thanks

Anonymous said...

Informasi tinggi yang seharusnya mewarnai perbendaharaan Sejarah Indonesia .
Sungguh sangat disayangkan bila ada pelenyapan bukti sejarah .

Meike said...

udah tau ttg info ini sejak setaon yg lalu, pas pulang singkawang imlek kemaren coba tanya tanya disana gw jadi Gak yakin dengan kebenaran berita ini .....soalnya gw asli singkawang dan gw udah generasi yg ketujuh sejak moyang gw datang dari kwangtung.....gw coba tanya tanya gak ada yg tau ttg republik ini, kalo kongsi emang pernah........tapi gak pantas disebut republik, soalnya gak ada teritori resmi, gak ada dsar hukum, gak ada pemerintahan dll, mungkin cuman kyk gang yg di film film gitu......

Anonymous said...

udah tau ttg info ini sejak setaon yg lalu, pas pulang singkawang imlek kemaren coba tanya tanya disana gw jadi Gak yakin dengan kebenaran berita ini .....soalnya gw asli singkawang dan gw udah generasi yg ketujuh sejak moyang gw datang dari kwangtung.....gw coba tanya tanya gak ada yg tau ttg republik ini, kalo kongsi emang pernah........tapi gak pantas disebut republik, soalnya gak ada teritori resmi, gak ada dsar hukum, gak ada pemerintahan dll, mungkin cuman kyk gang yg di film film gitu......

Meike

Anonymous said...

Menarik sekali Blog Bapak. Terima kasih atas ilmu yang dibagikan. Saya juga baru tahu kalau ada republik Lan fang di Kalimantan Barat. Mohon dikasih tahu sumbernya. Saya ingin sekali membacanya dari referensi yang Bapak gunakan. Terima kasih atas bantuannya

Inosensius said...

kajian ini ilmiah ga ya? ada bukti2 yang sahih dan dapat dipercaya ga?
referensinya ada ga, dalam bahasa apa? hebat benar Kalbar pendiri republik pertama walaupun oleh pendatang dari cina, tapi lumayanlah........

Anonymous said...

Informasi ini saya peroleh dr
Url :http://www.mail-archive.com/singkawang@yahoogroups.com/msg02585.html
saya jg menyarankan anda kunjungi Url:http://www.mail-archive.com/search?l=singkawang@yahoogroups.com&q=lan+fang

Tip:coba anda isi d kotak pencarian dgn kata Lan Fong,Low Fong Pak,Republik Lan Fong, dll

Ada buku Dr Yuan Bingling (asal RRC), ttg KOngsi di Borneo.
Sekarang buku ini tersedia gratis di internet, dan bisa didownload
disini: http://www.xiguan/. net/yuanbingling/index.asp (Note:saya blom berhasil download dari link ini)
Buku aslinya adalah disertasi di Belanda (Leiden?) dan diterbitkan di
Amsterdam (CNWS). Di web diatas ada juga tulisan2 Dr Yuan lainnya
mengenai Tionghoa-Indonesia yg cukup bermutu.
semoga membantu,
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
Sebuah informasi yang sangat menarik dan berharga dari Bp. Didi.
Dr. Yuan Bingling adalah seorang peneliti wanita lulusan Fudan
University yang melanjutkannya di Institute of Nanyang Research of
the University of Xiamen.

Artikel tentang keramik Dehua itu juga sangat informatif dan menarik
dari Dr. Yuan, dimana sangat jarang ditemukan tulisan yang
membahasnya, walaupun keramik ini banyak dijumpai di Indonesia.

Buku "Chinese Democracies, A Study of the Kongsis of West Borneo
(1776-1884)" yang ditulis oleh Dr. Yuan ini dibuat berdasarkan
hasil disertasinya di Universitas Leiden, Belanda.

Memang sukar untuk mendapatkannya buku tersebut di Indonesia yang
diterbitkan di Leiden University, Netherland itu dan alangkah
baiknya juga kalau buku ini dapat diterjemahkan kedalam bahasa
Indonesia nantinya.

Buku-buku mengenai sejarah republik kongsi di Kalbar saat kini masih
langka atau sangat terbatas. Dr. Yuan sendiri dalam penelitiannya,
selain melakukan penelitian di lapangan (Kalbar), ia banyak
mendapatkan bahan dan data dari arsip-arsip dan dokumen
pemerintahan Hindia Belanda yang tersimpan di Leiden.

Tetapi dalam penelitiannya di Indonesia Dr. Yang BL tidak berhasil
mendapatkan akses ke Arsip Nasional walaupun telah berusaha dengan
berbagai upaya dan tidak diketahui apa alasannya, apakah ini sebuah
faktor kesengajaan atau birokrasi?, karena ketika itu masih jaman
Orba yang mempunyai versi sejarah sendiri saat penelitian
dilakukan.

Bahkan dalam buku "Sejarah Nasional Indonesia" yang disusun oleh
Nugroho Notosusanto dan M. Djoened Poesponegoro tidak disebutkan
sekalipun mengenai perang atau perlawanan melawan Belanda itu,
terutama dalam buku jilid 4 yang membahas hampir semua perlawanan
terhadap kolonialisme pada periode 1800-1900 di wilayah lainnya
Indonesia, kecuali di Kalbar

Hal ini dapat terjadi mungkin karena sejarah perang Kongsi dengan
Belanda di Kalbar tidak atau belum diterima (diakui) sebagai bagian
dari historiografi sejarah nasional Indonesia atau sedikit tulisan
dan penelitian sejarah mengenainya.

Kalaupun ada hanya dicantumkan sepintas saja dan disebutkan hanya
sebagai pemberontakan Cina terhadap Belanda saja dan bukan sebagai
perlawanan terhadap kolonial Belanda.

Bukunya sendiri mempunyai 354 halaman. Hampir semua chapter telah
dimasukkan kedalam website www.xiguan.net ini, kecuali appendices,
bibliography dan index. Mungkin ada baiknya juga jika dapat
dilengkapi lagi dengan appendices-nya yang berjumlah 12 appendices
(54 hal), karena banyak toponim, nama orang dan peranannya serta
istilah bahasa Tionghoa dan nama-nama organisasi kongsi lainnya
dicantumkan dalam appendices itu.

Hal yang menarik dalam tulisan Dr. Yuan ini dan berbeda dengan
pengertian atau persepsi banyak orang sampai kini adalah mengenai
peranan Lanfang kongsi, terutama dalam peperangan dengan Belanda.

Pendapat Dr. Yuan identik dengan Mary Somers Heidhues (Chinese
Settlement in Rural Southeast Asia: Unwritten Histories) yang
mengatakan bahwa "Heshun Zongting" kongsi di Montrado (50 km sebelah
utara Mandor) yang didirikan tahun 1776 lebih besar dan tua
daripada Lanfang kongsi yang didirikan oleh Luo Fangbo (Low Lan Pak /
Luo Fangkou) pada tahun 1777.

Menurut Dr. Yuan sejarah Kongsi di Kalbar sesungguhnya adalah sejarah
Kongsi Montrado, merekalah yang memberikan perlawanan dengan gigih
untuk mempertahankan kebebasannya terhadap Belanda dan bukan Lanfang
Kongsi (The history of the Chinese kongsis is therefore by and large
that of the Montrado kongsi, and not of the Lanfang kongsi).

Pertempuran yang paling besar dan menentukan dalam peperangan antara
kongsi dengan Belanda terjadi Montrado pada tahun 1853-1854. Lanfang
kongsi sendiri luput dari serangan Belanda dalam perang tersebut.
Dan baru ketika pemimpin Lanfang kongsi terakhir Liu Asheng.meninggal
dunia di tahun 1884, Belanda datang untuk merebut dan menundukkannya,
sehingga berakhirlah sejarah kongsi di Kalbar untuk selamanya,
jadi setelah sekitar 30 tahun Montrado dikalahkan oleh Belanda

Dengan demikian lebih banyak dan mudah orang mengingatnya sejarah
Lanfang di Mandor daripada Heshun di Montrado, selain itu tulisan-
tulisan tentang sejarah kongsi banyak mengenai Lanfang daripada
kongsi di Montrado (separti De Grott). Karena ini mungkin Dr. Yuan
memilih judul bukunya "Kongsis of West Borneo" dan bukan Lanfang
kongsi.

Tetapi pemimpin kongsi di Kalbar yang terkenal tetap Luo Fangbo (Low
Lan Pak) yang mendirikan Lanfang Kongsi atau Republik Lanfang dan
beristrikan seorang wanita Dayak.

Luo Fangbo adalah seorang Hakka dan tokoh sejarah yang besar dari
Kalbar. Liang Qichao (tokoh reformator dari Tiongkok) juga pernah
menulis sebuah artikel tentang riwayat hidup delapan perantau besar
Tiongkok, dimana Liang mengangkat nama Luo Fangbo (Low Lan Pak) yang
mendirikan Lanfang Kongsi atau Republik Lanfang itu sebagai salah
satu yang tokohnya.

Kontribusi selain pertambangan

Sejak tahun 1850 kongsi-kongsi sudah mulai melemah, dikarenakan
peperangan dan persaingan antara mereka sendiri serta sumber
pertambangan yang mulai menipis, akibatnya banyak orang Tionghoa
mulai beralih ke sektor pertanian (seperti di Singkawang),
perdagangan dan industri.

Disektor ini masyarakat Tionghoa Kalbar relatif banyak memberikan
kontribusi selain teknologi pertambangan emas yang maju, seperti
teknologi pertanian panen ganda beras (double-cropped wet rice),
teknologi tanaman penghasil gula (tebu), dan perintis perkebunan
karet. Hal yang sama terjadi dengan orang Tionghoa di Bangka yang
memperkenalkan teknologi pertambangan Timah dan tanaman Lada.

Nandar said...

Sudah lama saya mencari buku yg terkait dengan kongsi China di kalbar, akhirnya buku Chinese Democracies, A Study of the Kongsis of West Borneo (1776-1884) telah ditemukan.

MencobaPintar said...

artikel yang bagus pak, tapi ada sedikit yang mengganjal di hati saat membaca alinea terakhir. "Ada suatu keunikan, ketika tiga orang keturunan Hakka menjadi pemimpin di tiga negara pada waktu yang bersamaan, yaitu Deng Xiaoping berkuasa di RRC, Lee Tenghui menjadi Presiden Taiwan dan Lee Kuan Yew menjadi Perdana Menteri di Singapura." nah keunikkannya dimana? (unik dalam segi kebijakan politik, ekonomi dll) saya belum mendapatkan jawaban di artikel ini. terima kasih pak

Fyan waLnuTTree said...

Republik itu secara resmi adalah sebuah negara merdeka bro. Kasus La fang sendri kalo di sejarah kita juga tau kalo La Fang itu adalah hanya sebuah Kongsi (Perkumpulan) bukan Negara Resmi. Perkumpulan manapun pasti mempunyai sistem management (termasuk La Fang). Cara Pemilihan Ketua Kongsi Lan Fan saat itu menurut pemahaman 'zaman sekarang ini' adalah sangat
demokratis yaitu Ketua Kongsi dipilih melalui pemilihan umum oleh seluruh warga Kongsi. Karena cara pemilihan ini sehingga oleh sebagian orang yang "menterjemahkan" tulisan
Yap Siong Yoen (anak tiri dari Kapitan Kongsi Lan Fang yang terakhir)dan tulisan J.J. Groot (sejarawan Belanda)
mengenai Kongsi Lan Fang yang di 'interpretasikan' TERLALU JAUH atau BERLEBIHAN sehingga Kongsi Lan Fang diartikan sebagi
"Republik Lan Fang" padahal di dalam kedua tulisan asli itu TIDAK ADA KATA 'REPUBLIK'. kata Republik adalah untuk sebutan bagi suatu negara / wilayah yang
merdeka sedangkan Kongsi Lan Fang saat walaupun mendapat status OTONOMI khusus namun tetap berada
dibawah naungan Kesultanan
Pontianak sehingga bukan
merupakan suatu negara merdeka. Oleh karena itu apa yang disebut sebagai "Republik Lan Fang" itu TIDAK PERNAH ADA, yang ada adalah Kongsi Lan Fang yang mendapat status otonomi khusus dari Sultan Pontianak.

Sebenarnya siapa saja bisa menggunakan istilah Republik, seperti Republik Cinta si Ahmad Dhani hehehe

Tisno Aci said...

Ada arsip di Kesultanan Pontianak

Tisno Aci said...

Ada di Keraton Pontianak, Museum Hakka di Kuching Serawak. Dan monument peringatan untuk prajurit belanda yg gugur perang dengan lan fang, monument itu ada pas dibelakang kantor camat mandor. Kondisinya sangat memprihatinkan.

batarahutagalung said...

Tisno Aci, Terima kasih atas informasinya.
Ketika saya ke Pontianak tanggal 28 September yang lalu, langsung ke Singkawan.
Belum sempat melihat-lihat di Pontianak dan di Mandor.
Semoga pada kesempatan yad.
salam