Monday, February 20, 2006

Wawancara Radio Nederland dengan Batara Hutagalung,

Wawancara Radio Nederland Siaran Indonesia (Ranesi) dengan Batara Hutagalung,
28 Juli 2005

Menlu Belanda Bot Hadiri Upacara 17 Agustus di Jakarta

Apakah Belanda Akui Tanggal Itu Sebagai Kemerdekaan RI?
Menteri Luar Negeri Belanda, Bernard Bot akan menjadi pejabat tinggi Belanda pertama yang menghadiri perayaan ke 60 proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus mendatang. Selama ini Belanda tidak mengakui tanggal itu sebagai hari kemerdekaan RI. Bagi Belanda Indonesia baru merdeka tanggal 27 Desember 1949 dengan penyerahan kedaulatan Belanda kepada Indonesia. Jadi apakah kehadiran Menlu Bot dapat dikatakan sebagai pengakuan atas 17 Agustus? Kami tanyakan kepada Batara Hutagalung, Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda, yang baru-baru ini mengirim petisi kepada pemerintah Belanda menuntut pengakuan atas 17 Agustus serta permintaan maaf.

Terobosan yang berani
Batara Hutagalung [BH]: "Kalau dari sudut pandang kami, belum. Karena kalau memang ada pengakuan, harus dinyatakan secara resmi. Selama ini kan pemerintah Belanda resminya tidak mengakui. Jadi sekarang yang belum jelas, apakah Ben Bot itu hadir sebagai menteri luar negeri atau sebagai pribadi, karena sering menteri-menteri itu datang dalam kapasitas pribadi. Ini kan masalahnya sangat sensitif".
"Kami juga mendengar bahwa masih cukup banyak tentangan di Belanda terutama dari kelompok veteran. Jadi menurut kami kalau hanya sekadar datang dan duduk di situ basa-basi, itu belum menyatakan pengakuan. Harus dengan jelas memberikan statement, kapasitas beliau sebagai menteri luar negeri atau sebagai pribadi, dan bagaimana sikap pemerintah Belanda sekarang terhadap masalah ini?"

Radio Nederland [RN]: "Kalau dia datang sebagai pribadi, maka itu bisa dikatakan percuma saja, Pak?"

BH: "Tidak juga. Kami sangat menghargai karena kami melihat ini memang suatu terobosan yang cukup berani kalau kita melihat begitu kuat tantangan di Belanda. Seperti kita ingat waktu Ratu Beatrix tahun 1995 mau hadir di sini, masih ditentang oleh Perdana Menteri Wim Kok pada waktu itu".

Belum ada pengakuan diplomatik
RN: "Kehadiran Ben Bot nanti, apakah bisa dikatakan secara tidak langsung merupakan pengakuan terhadap 17 Agustus itu?"

BH: "Langkah menuju itu terlihat jelas. Secara pribadi, cukup banyak yang sudah mendukung. Bahkan saya membaca, Partij van de Arbeid sendiri, saya tidak tahu apakah seluruh fraksinya atau beberapa orang dari fraksinya, telah menyatakan mendukung pengakuan ini. Begitu juga beberapa tokoh legiun veteran Belanda, bahkan ketuanya waktu datang ke Jakarta juga menyatakan secara pribadi sudah tidak keberatan dan tidak ada masalah".
"Namun ini semuanya secara institusi belum. Sedangkan kita ini kan urusan negara, urusan diplomasi. Kalau memang tidak ada pengakuan diplomatik, kami juga sudah mengusulkan kepada pemerintah Indonesia, kalau memang tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, ya sudah putuskan saja hubungan diplomatik dan hanya hubungan dagang dengan tingkat konsulat".

Tak banyak yang tahu
RN: "Pak Batara, kenapa Komite merasa perlu bahwa pemerintah Belanda mengakui kemerdekaan 17 Agustus dan meminta maaf, sedangkan pemerintah Indonesia sendiri tampaknya tidak mempermasalahkan hal ini?"

BH: "Memang cukup banyak yang tidak mengetahui, bahkan di pemerintahan. Saya juga banyak bicara dengan kalangan pemerintahan, tidak banyak yang mengetahui bahwa sampai sekarang pemerintah Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Komite kami berpendapat, ini masalah martabat bangsa sebagai negara yang berdaulat. Misalnya, anda ulang tahunnya 5 Agustus. Saya tidak mengakui, saya bilang ulang tahun anda 7 September, kan anda tidak mau. Apalagi untuk kedaulatan suatu negara, saya pikir tidak ada satu negara pun yang mau didikte dari luar kapan hari kemerdekaannya".
"Lagi pula dari sudut sejarah, yang diakui oleh pemerintah Belanda yaitu Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949. Itu sudah dibubarkan tanggal 16 Agustus tahun 1950, tidak sampai satu tahun umurnya. Jadi yang diakui oleh pemerintah Belanda itu tidak eksis lagi. Dan tanggal 17 Agustus tahun 1950 dinyatakan kembali berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sekarang pemerintah Belanda mempunyai hubungan diplomatik dengan Republik Proklamasi. Jadi kalau hal ini tidak diakui juga, saya pikir ini sudah sangat menyalahi tata krama diplomasi ".

Masalah diplomatik
RN: "Pak Batara, bagaimana dengan pendapat yang menyatakan soal mau mengakui atau tidak mengakui itu kan masalah Belanda sendiri bukan masalah kita. Kita tetap mengakui 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan, kalau Belanda tidak mau mengakui, itu masalah mereka ".
BH: "Ini kan masalah hubungan diplomatik dua negara. Logikanya, kalau dua negara mau menjalin diplomatik, maka harus saling menghargai, menghormati, dan mengakui kedaulatan negara mitra".
Demikian Batara Hutagalung.

2 comments:

Anonymous said...

nsalam setengah merdeka.

bang batara, aku lihat tulisan di blog abang bagus-bagus. aku minta izin merepublish kembali tulisan abang di blog aku, newhistorian.wordpress.com.
semoga masyarakat kita tercedaskan dan terbebaskan!

terima kasih atas jawabannya...

Satuchid said...

Mas Batara Hutagalung salam kenal . saya adalah salah satu putra dari BPk Soetoro yang ikut terbvantai di "Pasar Nongko Solo bersama sama dengan Om dan kurir bapak serta saudara saudara lainnya. Yang jelas kami sekeluarga menyaksikan pembantaian Belanda pada saat itu. Saya sendiri saat itu masih berumur 7-8 tahun jadi ingatan saya masih segar. Bila diperlukan kami akan ikut membantu bapak dalam hal ini. Terima kasih, email kami sbb: "satochid"