ANALISIS
KAMUS SEJARAH INDONESIA
Presentasi di IKAL Strategic Centre (ISC)
Kamis, 27 Mei 2021.
Oleh Batara R.
Hutagalung
Ketua Forum Komunikasi Masyarakat
Peduli Sejarah
(FKMPS)
I.
PERKENALAN
II.
MATERI:
FAKTA-FAKTA YANG DITEMUKAN
Setelah meneliti Kamus Sejarah
Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia pada bulan April 2021, ditemukan beberapa fakta.
Fakta-fakta
tersebut adalah:
1. Dari periodisasi terlihat “hilangnya” masa penjajahan
bangsa-bangsa Eropa, terutama penjajahan Belanda di wilayah yang sekarang
menjadi Republik Indonesia.
Dengan hilangnya
sejarah penjajahan, maka hilang juga kekejaman-kekejaman, bahkan
kebiadaban-kebiadaban yang dilakukan oleh penjajah dan antek-antek serta
kaki-tangannya dalam menindas pribumi di wilayah jajahan. Kebiadaban-kebiadaban tersebut antara lain adalah
pembantaian etnis (genosida), perampokan harta Nusantara, pemberlakukan sistem
tanam paksa yang membawa keuntungan yang sangat besar untuk penjajah dan para
mitra dagangnya, namun membawa kesengsaraan yang menyebabkan ribuan rakyat mati
kelaparan di tanah yang subur.
Bahkan di
kamus ini bukan menulis kekejaman-kekejaman penjajah, melainkan sebaliknya,
ratu Belanda dan beberapa orang Belanda, termasuk Gubernur Jenderal Dirk Fock
dipuji-puji. Penulisan nama orang Belanda mendapat atribut TUAN DAN NYONYA, seperti di zaman penjajahan, yaitu
penyebutan para jongos pribumi kepada para majikan orang Belanda.
2. Dengan hilangnya sejarah penjajahan Belanda dan masa
agresi militer Belanda di Republik Indonesia antara tahun 1945 - 1949, maka
hilang juga lembaran hitam sejarah bangsa Cina baik di masa penjajahan, maupun
di masa agresi militer Belanda di Republik Indonesia antara tahun 1945 – 1949.
Di masa
penjajahan Belanda sejak tahun 1619 – 1942, bangsa Cina adalah mitra penjajah
di berbagai bidang,
bukan hanya di bidang perdagangan saja, melainkan dalam pengelolaan perkebunan,
pelaksanaan pemungutan pajak, pengelolaan rumah-rumah judi dan rumah-rumah
madat, dll.
Dalam upaya
menjajah Republik Indonesia setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan
pada 17 Agustus 1945, mulai tahun 1946 Belanda merekrut bangsa Cina yang ada di
Republik Indonesia untuk menjadi anggota pasukan Pao (Po) An Tui. Belanda
membentuk, membiayai dan melatih pasukan Pao (Po) An Tui. Pasukan bangsa Cina
ini ikut berperang di pihak Belanda dalam agresi militer Belanda I, tanggal 21
Juli 1947 dan agresi militer Belanda kedua tanggal 19 Desember 1948.
Setelah
lembaran hitam sejarah bangsa Cina sejak zaman penjajahan dan di masa agresi
militer Belanda “hilang,” di Kamus Sejarah Indonesia muncul banyak nama-nama
bangsa Cina.
3. Banyak nama Pahlawan
Nasional Indonesia, terutama dari
kalangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan pejuang-pejuang yang melawan
Belanda dari Kamus Sejarah Indonesia.
Banyak dari
nama Pahlawan Nasional dari TNI yang “hilang,” adalah mereka yang gugur dalam
Perang Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia terhadap agresi militer Belanda.
Sangat
mengherankan. Apakah para pengarang kamus ini tidak mengetahui, bahwa di
toko-toko buku dapat dibeli Album Pahlawan Nasional Indonesia? Seandainya
kurang lengkap, dapat ditanyakan ke Kementerian sosial RI. Usulan pemberian
gelar Pahlawan Nasional Indonesia dibahas di Kementerian Sosial RI. Dengan
demikian, Kementerian Sosial memiliki data paling lengkap mengenai Pahlawan
Nasional Indonesia, berikut peran dari para Pahlawan nasional Indonesia. Oleh karena
itu, sangat tidak masuk akal, kalau sangat banyak nama Pahlawan Nasional
Indonesia tidak ada di Kamus Sejarah Indonesia dengan alasan “alpa, lalai atau
lupa.”
4. Di lain pihak, semua nama-nama tokoh-tokoh Partai
Komunis Indonesia lengkap ditulis di Kamus Sejarah Indonesia. Keterangan
mengenai PKI dan tokoh-tokoh PKI juga sangat panjang.
5. Rangkuman dari butir 1 – 4:
Di Kamus
Sejarah Indonesia yang baru ini, banyak nama Pahlawan nasional Indonesia yang
“hilang.” Sebagian besar nama-nama yang hilang adalah dari kalangan Tentara
nasional Indonesia (TNI). Bahkan banyak dari mereka yang gugur dalam perang
mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Lembaran hitam sejarah
penjajahan bangsa Belanda dan lembaran hitam sejarah peran bangsa Cina yang
menjadi mitra Belanda di masa penjajahan juga “hilang.” Di lain pihak, ratu
Belanda dan orang-orang Belanda sang penjajah dipuji. Nama-nama tokoh-tokoh Partai Komunis
Indonesia lengkap ditulis. Di Kamus Sejarah Indonesia yang baru, muncul
nama-nama orang-orang bangsa Cina yang tidak ada perannya dalam pembentukan
negara dan pembangunan negara Indonesia.
Di jilid I,
hlm. 315, ada nama Tan eng hoa, anggota BPUPK . anggota BPUPK berjumlah 67
orang. Namun mengapa idak semua nama anggota BPUPK ditulis di Kamus ini? Dalam sidang BPUPK, ketika
membahas mengenai kewarganegaraan dai negara yang akan didirikan, tiga orang
wakil bangsa Cina, yaitu Tan Eng Hoa,
Oey Tjong Hauw dan Oey Tiang Tjoey, tidak ingin menjadi warga negara dari
negara yang akan didirikan, yaitu Republik Indonesia. Jadi di mana “peran
besar” Tan Eng Hoa dalam pembentukan negara Indonesia? (lihat Risalah
Sidang-Sidang BPUPK yang diterbitkan oleh Sekretariat Negara, halaman xxxvii).
Di jilid I
ada ditulis halaman 131: “Kung Yung Pao,
Surat kabar. Surat kabar berbahasa Cina yang diterbitkan di Jakarta. Dipimpin
oleh Oey Tiang Tjoei.” Apa peran besar dari Oey Tiang Tjoei dan surat kabarnya dalam
pembentukan negara Indonesia, sehingga namanya dan nama surat kabarnya ditulis
dalam Kamus Sejarah Indonesia yang baru? Di masa pembentukan bangsa dan negara
Indonesia tahun 1900 – 1950, sangat banyak harian dan penerbitan yang dipimpin
oleh pribumi, yang justru sangat berperan dalam pembentukan negara dan bangsa Indonesia. Mengapa itu semua
tidak ditulis di Kamus Sejarah Indonesia yang baru?
Kalau yang
dimaksud adalah Oey Tiang
Tjoei yang menjadi anggota BPUPK mewakili bangsa Cina, maka dia termasuk yang
menolak menjadi warga negara dari negara yang akan didirikan dan akan
dinamakan INDONESIA. Lihat penjelasannya mengenai Oey Tiang Tjoey dalam Risalah Sidang-Sidang
BPUPK, halaman xxxvii, yang diterbitkan oleh Sekretariat Negara tahun 1998.
Editor Kamus
Sejarah Indonesia yang diterbitkan oleh Kemendikbud Ristek tahun 2021 adalah Prof. Susanto Zuhdi. Dalam penjelasannya kepada media dia mengatakan, bahwa: “Semua tokoh-tokoh yang berperan besar dalam Pembentukan Negara dan
Pembangunan Negara Indonesia harus ditulis dalam Kamus Sejarah Indonesia.”
(Lihat:
Namun
faktanya menunjukkan, bahwa justru puluhan nama-nama pahlawan yang berperan dan
bahkan gugur dalam perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia terhadap agresi
militer Belanda dan sekutunya, ABDACOM, serta kaki tangan dan antek-anteknya di
Indonesia, tidak ditulis dalam Kamus Sejarah Indonesia tersebut. Agresi militer
Belanda dan sekutunya antara tahun 1945 – 1949 bertujuan untuk menghancurkan
negara dan bangsa Indonesia. Dalam melancarkan agresi militernya, pasukan
Belanda diperkuat dengan pasukan KNIL, yaitu pribumi dan keturunan Indo yang
pro Belanda. Pasukan Belanda juga diperkuat dengan pasukan Po (Pao) An Tui, yaitu pasukan bangsa Cina
yang tinggal di Indonesia.
III.
KESIMPULAN
Melihat
penulisan2 sejarah yang diterbitkan oleh Kemendikbud, baik dalam buku2 sejarah
untuk sekolah2, maupun dalam Kamus Sejarah Indonesia yang baru, serta penulisan
sejarah di buku Materi Sosialisasi Empat Pilar MPR, sadar atau tidak disadari,
bahwa ini semua seperti “Mengarang Sejarah Baru” untuk bangsa Indonesia. Banyak
isinya merupakan pemutar-balikan fakta2 sejarah penjajahan dan “menyembunyikan”
kekejaman2 tentara Belanda dan antek serta kakitangannya di masa agresi militer
Belanda ke I dan ke II.
SIAPA SAJA YANG DIUNTUNGKAN DAN SIAPA YANG DIRUGIKAN DI KAMUS SEJARAH INDONESIA INI?
Terdapat BENANG MERAH dengan buku2 sejarah untuk
sekolah2 yang diterbitkan oleh
Kemendikbud tahun 2017.
IV.
SARAN
1.
Buku Kamus Sejarah Indonesia dan buku2 sejarah
untuk sekolah2 yang diterbitkan oleh Kemendikbud, Kurikulum 2013 Edisi revisi
2017, harus ditarik dari peredaran.
2.
Dilakukan lagi penelitian yang sangat rinci dan
dalam menulis historiografi, harus melibatkan pakar2 dari berbagai disiplin
ilmu, a.l. strategy militer, psikologi sosial, diplomat, hukum, komunikasi,
bahasa, dll.
3.
Dalam ‘Periodisasi Kamus Sejarah Indonesia’ yang akan
diterbitkan, harus dimasukkan masa penjajahan bangsa-bangsa Eropa.
4.
Masa penjajahan Belanda harus dijelaskan dengan
rinci.
5.
Masa pendudukan tentara Jepang juga harus
ditulis secara rinci..
6.
Masa Perang Mempertahankan Kemerdekaan terhadap
agresi militer Belanda harus ditulis dengan lengkap, termasuk
kekejaman-kekejaman tentara Belanda dan kaki-tangan serta antek2nya.
V.
PENUTUP
Slide bagaimana 60
orang Belanda menguasai 60 juta pribumi.
Membahas konsep
“SEJARAH SEBAGAI SENJATA.”
********
No comments:
Post a Comment